Tuesday, December 13, 2011
Foto MotoGp
http://www.flickr.com/photos/todopromotoras/5868705647/in/photostream/
Sunday, December 4, 2011
Tips Mengatasi Keraguan Dalam Berbisnis WIRAUSAHA
http://tipjitu.blogspot.com/2011/03/enaknya-menjadi-pengusaha-cerita-untuk.html
http://wira-usaha-mandiri.blogspot.com/2011/10/tips-mengatasi-keraguan-dalam-berbisnis.html
umrah terjadi bila seorang pekerja kantoran ingin menjalankan bisnis, timbul kekhawatiran dan keraguan bagi mereka yang mencoba terjun dalam dunia bisnis. bagimana menghidupi diri sendiri? bagaimana bila bisnis ini gagal?
Begitu banyak orang yang bermimpi bisa membangun usaha sendiri. Sayangnya, niat itu tak pernah terlaksana karena terhalang rasa takut yang berlebihan. Mereka merasa tak dilahirkan sebagai seorang wirausaha, tidak memiliki pengalaman, atau tidak memiliki modal yang cukup besar. Namun, ketika Anda memiliki passion untuk sesuatu yang selalu menjadi keinginan Anda, tak ada lagi yang perlu Anda takutkan. Ikuti saja lima langkah awal yang perlu Anda lakukan berikut:
1. Fokuslah pada sisi positifnya.
Belum apa-apa sudah memikirkan bagaimana kalau gagal, ini artinya Anda kalah sebelum berperang. Jangan kaget bila kekuatan pikiran membuat Anda gagal betulan. Ubahlah sikap Anda dari "Saya tidak tahu apakah saya bisa" menjadi "Saya bisa memulai bisnis sekarang dan menjadi sukses". Awali langkah Anda dari hal-hal yang paling kecil atau mendasar, seperti mulai survei lokasi, mencari partner, atau menghubungi pemilik waralaba yang Anda incar.
2. Mulailah bisnis ketika Anda masih bekerja.
Ini salah satu cara termudah untuk mengatasi ketakutan Anda bila bisnis Anda tidak berhasil. Sebab, Anda masih memiliki kepastian dalam hal keuangan apabila bisnis Anda tidak berjalan. Memang akan susah bila Anda masih bekerja dan harus menyisihkan waktu untuk mengurus usaha. Repot dan butuh perhatian penuh, tetapi kerja keras Anda pasti akan terbayar nantinya.
3. Lakukan riset sebelumnya.
Ada baiknya Anda mengadakan riset pasar dan mempelajari segmen pasar Anda, apalagi bila segmen Anda termasuk langka. Persiapan ini akan membantu Anda membuat keputusan yang benar dan memberi petunjuk bagaimana harus menjual produk, serta di mana dan siapa yang harus menjualnya. Business plan yang dilengkapi dengan visi dan tujuan yang jelas akan menghapus kekhawatiran Anda saat mulai menjalankannya.
4. Siapkan "backup plan".
Setiap business plan yang baik pasti mempunyai rencana cadangan. Pertama, miliki modal yang cukup sehingga Anda tidak menginvestasikan semua tabungan kehidupan Anda. Jika Anda berencana berbisnis sambil tetap bekerja, Anda bisa sedikit menabung dan menyusun rencana cadangan jika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Kalau Anda berniat mengundurkan diri dari perusahaan untuk menjalankan bisnis, akan lebih bijak jika Anda juga sudah memiliki tabungan yang memadai. Pendek kata, kesiapan keuangan tak boleh sekadar mampu membiayai usaha, tetapi juga membiayai hidup Anda selanjutnya ketika bisnis Anda gagal.
5. Lakukan sekarang.
Jangan terlalu lama berpikir dan menunggu. Yakini diri Anda dan visi yang telah Anda buat, lakukan riset, dan buat keputusan yang cerdas. Atasi segala kekhawatiran Anda dan segera jalankan bisnis yang sudah lama Anda idam-idamkan. Apalagi, bila bisnis ini menyangkut passion Anda. Dengan passion, Anda memiliki kekuatan untuk menjalankannya dengan tekun.
http://wira-usaha-mandiri.blogspot.com/2011/10/tips-mengatasi-keraguan-dalam-berbisnis.html
umrah terjadi bila seorang pekerja kantoran ingin menjalankan bisnis, timbul kekhawatiran dan keraguan bagi mereka yang mencoba terjun dalam dunia bisnis. bagimana menghidupi diri sendiri? bagaimana bila bisnis ini gagal?
Begitu banyak orang yang bermimpi bisa membangun usaha sendiri. Sayangnya, niat itu tak pernah terlaksana karena terhalang rasa takut yang berlebihan. Mereka merasa tak dilahirkan sebagai seorang wirausaha, tidak memiliki pengalaman, atau tidak memiliki modal yang cukup besar. Namun, ketika Anda memiliki passion untuk sesuatu yang selalu menjadi keinginan Anda, tak ada lagi yang perlu Anda takutkan. Ikuti saja lima langkah awal yang perlu Anda lakukan berikut:
1. Fokuslah pada sisi positifnya.
Belum apa-apa sudah memikirkan bagaimana kalau gagal, ini artinya Anda kalah sebelum berperang. Jangan kaget bila kekuatan pikiran membuat Anda gagal betulan. Ubahlah sikap Anda dari "Saya tidak tahu apakah saya bisa" menjadi "Saya bisa memulai bisnis sekarang dan menjadi sukses". Awali langkah Anda dari hal-hal yang paling kecil atau mendasar, seperti mulai survei lokasi, mencari partner, atau menghubungi pemilik waralaba yang Anda incar.
2. Mulailah bisnis ketika Anda masih bekerja.
Ini salah satu cara termudah untuk mengatasi ketakutan Anda bila bisnis Anda tidak berhasil. Sebab, Anda masih memiliki kepastian dalam hal keuangan apabila bisnis Anda tidak berjalan. Memang akan susah bila Anda masih bekerja dan harus menyisihkan waktu untuk mengurus usaha. Repot dan butuh perhatian penuh, tetapi kerja keras Anda pasti akan terbayar nantinya.
3. Lakukan riset sebelumnya.
Ada baiknya Anda mengadakan riset pasar dan mempelajari segmen pasar Anda, apalagi bila segmen Anda termasuk langka. Persiapan ini akan membantu Anda membuat keputusan yang benar dan memberi petunjuk bagaimana harus menjual produk, serta di mana dan siapa yang harus menjualnya. Business plan yang dilengkapi dengan visi dan tujuan yang jelas akan menghapus kekhawatiran Anda saat mulai menjalankannya.
4. Siapkan "backup plan".
Setiap business plan yang baik pasti mempunyai rencana cadangan. Pertama, miliki modal yang cukup sehingga Anda tidak menginvestasikan semua tabungan kehidupan Anda. Jika Anda berencana berbisnis sambil tetap bekerja, Anda bisa sedikit menabung dan menyusun rencana cadangan jika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Kalau Anda berniat mengundurkan diri dari perusahaan untuk menjalankan bisnis, akan lebih bijak jika Anda juga sudah memiliki tabungan yang memadai. Pendek kata, kesiapan keuangan tak boleh sekadar mampu membiayai usaha, tetapi juga membiayai hidup Anda selanjutnya ketika bisnis Anda gagal.
5. Lakukan sekarang.
Jangan terlalu lama berpikir dan menunggu. Yakini diri Anda dan visi yang telah Anda buat, lakukan riset, dan buat keputusan yang cerdas. Atasi segala kekhawatiran Anda dan segera jalankan bisnis yang sudah lama Anda idam-idamkan. Apalagi, bila bisnis ini menyangkut passion Anda. Dengan passion, Anda memiliki kekuatan untuk menjalankannya dengan tekun.
ading wirausaha ayo dink!!!!!kamu harus jadi pengusaha!!!!!
Amal masih ingat betul kata-kata bosnya (pemilik perusahaan) ketika masih bekerja.. “Jangan sok idealis, anak buah kamu tetap akan berkerja karena mereka butuh makan. Yang penting kamu awasi dan kontrol terus menerus agar mereka tidak menjadi malas”. Kata pimpinannya dengan nada tinggi.
Penolakan dari bosnya ini sangat membuatnya kecewa, karena waktu itu dia adalah manajer bagian produksi yang membawahi paling banyak tenaga kerja, kurang lebih 1000 orang.
Sudah seringkali anak buahnya mengeluh tentang mekanisme ijin tidak masuk kerja, waktu istirahat, waktu beribadah dan kenaikan gaji. Kasus yang sering muncul adalah sulitnya proses ijin tidak masuk kerja khususnya kalau ada karyawan yang anggota keluarganya tiba-tiba sakit.
Selain tidak ada asuransi untuk anggota keluarga, juga tidak ada perhatian dari perusahaannya terhadap keluarga karyawannya. Bahkan apabila karyawan nekat membolos kerja, maka sangsinya pemotongan gaji.
Menurut Amal, sistem yang buruk akan berdampak pada pekerja sekaligus perusahaan, karena ketidaktenangan dan ketidaknyamanan dalam bekerja akan membuat karyawan tidak fokus dan berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan.
Sudah lama Amal memendam perasaan itu, sampai kesabarannya mulai habis dan berpikir untukj segera keluar dari pekerjaannya. Sering Amal merasa heran sendiri kenapa bosnya menolak pembaharuan sistem yang justru akan menguntungkan kedua belah pihak, baik perusahaan maupun karyawannya.
Amal adalah seorang pemuda yang memiliki keinginan untuk menjadi orang sukses yang kaya dan bermanfaat untuk banyak orang. Perjalanan karirnya dimulai dengan menjadi seorang pekerja, karena Amal merasa tidak punya modal untuk berusaha sendiri. Dia percaya bahwa dengan bekerja baik dan tekun maka dia akan mampu mewujudkan cita-citanya, yaitu memiliki karir yang bagus dan gaji yang tinggi. Cara pandangnya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan keluarganya yang mendorongnya untuk segera bekerja selepas dia kuliah.
Keluarga dan lingkungan Amal tidak jauh berbeda dalam melihat pekerjaan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dimana sebagian besar keluarga dan lingkungan sosial mengajarkan “belajarlah yang keras pada saat sekolah, capailah nilai dan rangking tertinggi, kemudian dapatkan kerja yang terbaik dengan gaji yang besar”. Atau jadilah pegawai negeri sipil (PNS), karena jadi PNS akan membuatmu mendapat gaji dan pensiun seumur hidup. Itulah cara hidup terbaik.
Namun setelah melihat gaji PNS yang tidak begitu besar, dan juga cara kerja PNS yang kurang profesional, Amal berpikir kalau lebih baik dia kerja di perusahaan swasta yang bisa memberikan gaji lebih besar dari PNS, juga dilihatnya pekerja diperusahaan swasta lebih dinamis dan menantang.
Begitu selesai kuliah, amal melamar pekerjaan di banyak perusahaan yang menurutnya cocok untuk meniti karirnya. Akhirnya Amal diterima bekerja pada sebuah perusahaan textil.
Dia seorang pekerja yang baik, loyal, aktif dan tekun. Jabatan kepala produksi yang di capainya setelah 5 tahun berkerja telah menunjukkan bahwa dia pada dasarnya adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk meraih prestasi dalam dunia kerja.
Awalnya dia cukup puas dengan apa yang dikerjakan dan gaji yang dia dapatkan. Kemudian setelah 7 tahun bekerja, dan posisinya sudah menjadi seorang manajer, barulah mulai muncul ketidakpuasan dalam perjalanan hidupnya untuk mencapai cita-cita.
Ketika dulu dia masih menjadi staf biasa, dia memimpikan untuk merubah suasana dan atmosfir kerja yang lebih memberdayakan dan partispatif untuk semua karyawan. Dia percaya bahwa gagasannya justru akan membuat perusahaan bisa lebih efisien dan efektif. Sebagai staf biasa yang tidak memiliki wewenang apapun untuk mengambil keputusan, dia tidak berdaya untuk merubahnya. Dia berharap setelah mendapat jabatan penting akan mampu mempengaruhi kebijakan perusahaan dan melakukan perubahan.
Setelah 7 tahun bekerja, dia baru sadar bahwa perubahan itu tidak mudah, karena bosnya (pemilik perusahaan) adalah seorang pemikir tradisonal, dengan gaya manajemen masa lalu yang cenderung otoriter dan lebih berorientasi pada keuntungan, dan hampir tidak peduli dengan kesejahteraan karyawan.
Amal telah bekerja keras, penuh loyalitas, serta sering lembur dengan menambah jam kerja untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaannya. Namun itu semua ternyata belum mampu meyakinkan bosnya bahwa dia memiliki gagasan yang baik untuk merubah sistem kerja perusahaan. Sekalipun seorang pengusaha, namun cara berpikir bosnya justru tidak berkembang dan seringkali berorientasi jangka pendek dan takut akan kebangkrutan.
Padahal menurut cerita, bosnya dulu juga memulai dari nol untuk menjadi pengusaha besar. Memiliki kepribadian yang menyenangkan, memiliki keberanian, keuletan dan ketekunan sampai perusahaannya menjadi berkembang. Namun, dia tidak melihat sifat-sifat itu lagi di dalam diri bosnya.
Akhirnya Amal mulai merasa menemukan ketidaknyamanan dalam dunia kerja. Sampai tahun ke 8, dia masih bertahan, namun perlakuan yang diterima dari bosnya justru semakin membuatnya merasa kecewa. Gajinya tidak dinaikkan dan permintaanya untuk mengganti fasilitas mobilnya juga ditolak, sudah 2 tahun terakhir ini gaji dan fasilitasnya tidak berubah.
Padahal dia merasa telah ikut membesarkan perusahaan. Ketika dia baru masuk, tenaga diperusahaanya baru 400 orang. 5 tahun berikutnya sudah berkembang sampai 1000 orang, dan keuntungan perusahaan telah meningkat pesat. Kalaupun selama 2 tahun terakhir perusahaan menjadi stagnan, lebih dikarenakan bosnya tidak tanggap terhadap tuntutan perubahan.
Dia merasa bahwa loyalitas dan integritasnya telah dipahami secara salah oleh bosnya. Amal merasa diperlakukan secara tidak adil. Bekerja secara loyal, tekun dan professional, serta mampu membesarkan perusahaan, ternyata tidak secara otomatis menaikkan gajinya. Karena gajinya masih tergantung dengan si Bos. Selama ini dia tidak begitu menghiraukan, karena yang paling penting memberikan yang terbaik untuk perusahaan, sambil berharap bahwa suatu saat bosnya atau perusahaannya akan memberikan gaji yang sepadan.
Amal mulai merasa jauh dari kesuksesan yang pernah diimpikannya, dan pendapatan yang dia terima semakin tidak mencukupi kebutuhan bulanannya. Karena gaji 7,5 juta rupiah sebulan, fasilitas mobil dan tunjangan lainnya, selalu habis setiap bulannya. Sebagian besar gajinya digunakan untuk membatu adik-adiknya yang masih sekolah dan kuliah. Dulunya dia bermimpi untuk membahagiakan orangtuanya, menaikkan haji orang tuanya, dan masih banyak keinginan lainnya. Namun, impian itu sampai sekarang belum tercapai.
Sebenarnya Amal sudah sangat bersyukur kepada Tuhan dengan keadaannya sekarang, namun dia belum merasa sukses. Dia merasa ada kelebihan-kelebihan energi lain dalam dirinya yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Dia merasa terkekang oleh sistem kerja perusahaannya, dan kurang memiliki aktualisasi lain yang bisa dikembangkan.
Pada suatu hari, setelah 8 tahun penuh bekerja, dan mulai meragukan bahwa bekerja adalah jalan terbaik meraih cita-citanya, Amal bertemu dengan seorang teman lamanya yang kebetulan semenjak lulus kuliah langsung usaha. Usaha temannya terlihat belum besar namun ternyata sudah memiliki keuntungan bersih rata-rata 10 juta per bulan.
Temannya ini tampak hidup bersahaja, rajin beribadah, banyak menolong orang lain, sudah naik haji, berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Karyawannya ada sekitar 20 orang dan tampaknya juga rajin beribadah dan suasananya pun teduh dan nyaman. Dia membandingkan dengan dirinya yang belum berkeluarga, belum punya rumah dan bahkan tidak memiliki tabungan. Sekalipun setiap hari dia naik mobil bagus fasilitas perusahaan, namun sebenarnya dia tidak lebih kaya dibandingkan dengan temannya yang pengusaha itu.
Padahal 4 tahun yang lalu ketika dia sudah menjadi kepala produksi, temannya ini masih biasa-biasa saja, bisnisnya masih belum berjalan dan kehidupannya tampak pas-pasan, bahkan belum punya sepeda motor. Namun, sekarang tampaknya seperti terbalik, usaha temannya itu telah besar, menjadi kaya dan tampak menikmati pekerjaannya. Sementara dia sendiri berangkat kerja jam 7 pagi, pulangnya jam 9 malam bahkan kadang sampai jam 12 malam.
Dia tidak tahu persis bagaimana temennya ini menjadi sukses, karena 3 tahun terakhir dia sudah jarang ketemu, di mana Amal semakin sibuk dan temannya juga semakin sibuk.
Dari rasa tertarik akan kesuksesan temannya, akhirnya Amal menjadi sering ketemu dan diskusi dengan temannya itu tentang dunia bisnis dan enaknya menjadi pengusaha. Amal menemukan bedanya hidup menjadi pekerja dan menjadi seorang pengusaha. Dan dari temenya itulah kemudian dia mendapatkan sebuah buku tentang motivasi untuk menjadi seorang yang sukses.
Buku yang diberikan pada dia itu berjudul “Berpikir dan Berjiwa Besar” karangan dari DJ Scwartch. Buku itu mampu memotivasi secara kuat untuk merubah jalan hidupnya, dengan berniat untuk menjadi pengusaha.
Yang paling menarik setelah membaca buku itu, adalah kata-kata mutiara “kalau kau yakin bisa sukses, maka kau akan suskes”. Kesuksesan anda diukur oleh seberapa besar keyakinan anda terhadap kesuksesan itu sendiri.
Dalam waktu yang tidak lama kemudian Amal memutuskan untuk menjadi pengusaha, dan segera mengajukan permohonan mundur dari pekerjaannya. Bosnya sangat terkejut dan kaget dengan keputusannya, dan berharap bahwa Amal tidak mengundurkan diri, menawarkan gaji yang lebih tinggi dan fasilitas yang lebih baik. Namun Amal tidak perduli lagi, sudah terlalu lama dia bersabar, dan merasa sudah mantap dan yakin untuk keluar dari perusahaannya dan membangun usaha sendiri. Apakah kemudian Amal langsung menjadi pengusaha sukses ????
Pada awalnya Amal begitu meyakini bahwa bisnisnya akan segera berjalan dan menguntungkan setelah 1 tahun berjalan. Namun ternyata setelah 2 tahun bisnisnya berjalan, terbukti dengan jelas bahwa usaha sendiri ternyata tidak semudah dan secepat yang dibayangkan sebelumnya. Tidak seperti yang digambarkan oleh buku-buku yang pernah dibacanya. Bahkan usaha yang didirikannya cenderung merugi dan seakan-akan sedang menuju kebangkrutan dari pada keberhasilan.
Dia tidak lagi mampu membantu biaya sekolah adiknya, yang untungnya tinggal satu orang karena adiknya yang 1 lagi sudah selesai kuliah. Cicilan rumah yang terlanjur dia beli saat dia masih bekerja, juga tidak sanggup lagi dia teruskan, sebesar 2,5 juta setiap bulannya.
Bisnis yang dikembangkan oleh Amal adalah beternak sapi (pembesaran/penggemukan sapi). Dengan cara membeli sapi yang kecil atau bibit sapi kemudian dipelihara sekitar 3 sampai 4 bulan kemudian dijualnya. Hasilnya sebenarnya cukup menguntungkan, karena banyak pengusaha ternak sapi lain yang sudah sukses. Dia memilih beternak sapi karena mengetahui bahwa daging sapi sebagian besar besar masih impor, sehingga dia melihat bisnis ini cukup menguntungkan untuk jangka panjang. Didukung kondisi perekonomian yang semakin membaik dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang akan membuat konsumsi daging juga meningkat.
Setelah berjalan 2 tahun, dan tidak menemukan tanda-tanda keberhasilan dalam bisnisnya, Amal mulai ragu dan gelisah. Mulai muncul pertanyaan dari dalam dirinya. Apakah saya benar-benar mampu untuk menjadi pengusaha? Apakah benar-benar diperlukan “bakat” untuk menjadi pengusaha? Apakah saya telah gagal? Perlukah saya untuk ganti dari bisnis peternakan sapi ke bisnis yang lain? Ataukah saya harus kembali menjadi pekerja?
Sekitar 4 bulan lamanya Amal terjebak dalam kondisi itu, antara terus bisnis atau dia perlu mengambil jalan lain. Logika dan nalarnya benar-benar mengalami kebuntuan dan tidak mampu lagi mencari jalan terbaik apa yang perlu segera dilakukan.
Bisnisnya memang masih berjalan, tetapi dari 15 sapi yang semula dipelihara tinggal menjadi 8 sapi, yang keuntungannya tidak mampu lagi menutup operasionalnya dan gaji tenaganya. Belum lagi kalau tiba-tiba sapinya ada yang kena penyakit yang semakin memperbesar pengeluarannya. Dan yang lebih penting adalah cicilan hutang yang harus dia bayar tiap bulannya, karena telat sedikit akan langsung dikejar-kejar pihak Bank.
Pengalaman menemui kesulitan bisnis sendiri yang baru pertama kali dia temui, benar-benar menimbulkan keraguan yang mendalam. Dia merasa tidak percaya diri, bahkan rendah diri, malu keluar rumah, malu ketemu teman-teman lamanya, bahkan malu bertemu dengan keluarganya, karena dirinya sudah tidak bisa membantu keluarga lagi. Dia merasa malu, karena merasa telah gagal dan tidak ada yang perlu dibanggakan lagi.
Ketika masalah ini dia ceritakan pada teman-teman lamanya yang masih bekerja, mereka menyalahkan dan menyesalkan kenapa Amal harus keluar kerja. Berbagi dan ngobrol dengan teman-temannya yang pekerja justru membuat Amal semakin frustasi dan tidak tahu jalan mana yang harus diambil.
Dia teringat ketika baru akan memulai usaha, betapa saudara dan orangtuanya sangat menentangnya. Mereka menentang keinginan Amal untuk berhenti bekerja, dan membuka usaha sendiri. Keluarganya menganggap bahwa usaha sendiri itu penuh dengan resiko. Ya kalau lancar, kalau bangrut siapa yang menanggung??? Bahkan keluarganya mencontohkan orang-orang disekitar mereka yang berusaha sendiri, dan sekarang bangkrut. Dia merasa dalam kondisi yang benar-benar sulit. Di dalam dirinya selalu muncul pertanyaan yang sulit dijawabnya, haruskah dia berhenti wirausaha, dan kembali menjadi pekerja???
Untunglah Amal masih memiliki seorang teman yang pengusaha, yang mampu dan mau memotivasinya dia untuk terus bertahan dalam usahanya. Dia menemui lagi temannya itu, dan semakin merasa kagum karena temennya ini, karena usahanya semakin besar saja, bahkan keuntungan bersih rata-rata setiap bulan sudah mencapai 20 juta rupiah. Temannya itu bernama Alam.
Melihat Amal menghadapai masalah dalam merintis usahanya, maka Alam sebagai pengusaha yang sukses merintis dari nol, berusaha untuk membagikan pengalamannya kepada Amal. Alam mengatakan bahwa setiap kita ingin menaiki tangga kesuksesan, maka diperlukan sebuah perjuangan, dan harus berani melewati kegagalan. Alam bercerita bahwa dirinya juga mengalami hal yang sama di awal usahanya, sampai 3 tahun berjalan, usaha si Alam tidak menghasilkan keuntungan yang memadai, bahkan untuk beli makan sehari-hari tidak cukup.
“Rizki itu milik Allah SWT, tugas kita hanya menjemputnya dengan usaha kita”, kata Alam kepada Amal. “Ketika usaha kita belum memberikan hasil, maka bersabarlah, karena disetiap kesulitan itu ada kemudahan.” Alam menjelaskan begitulah Al Quran mengajarkan pada kita.
Setiap keinginan kita untuk suskes dalam usaha dunia, dibutuhkan pengetahuan dan cara mendapatkannya. Kalau kita sudah mampu menguasainya, maka dengan sendirinya kesuksesan bisnis akan begitu mudah kita dapatkan. Namun, semua itu butuh proses dan pembelajaran, sampai kemudian kita menemukan titik di mana usaha yang kita bangun menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan.
Sebagaimana orang sekolah, maka untuk naik kelas saja kita harus melewati test dan ujian. Barangkali kita tidak lulus test atau ujian, atau kita lulus dengan nilai jelek, tetapi kalau kita selalu bersungguh-sungguh, tekun dan ulet, maka lama-lama kita akan menjadi orang yang semakin pintar. Apalagi dalam dunia bisnis, yang tidak mengenal kelas dan siapa guru dan pengujinya.
Alam menceritakan dengan panjang lebar, dan menyarankan Amal untuk mebaca buku-buku yang berisi tentang motivasi bisnis lainnya. Seperti buku berjudul “Rich Dad Poor Dad” karya Robert T Kitosaki, buku “Emotional Spiritual Quation (ESQ)” karya Ari Ginanjar Agustian, “Menjadi Kaya dengan Cara Anda Sendiri” karya Brian Tracy, “Huku Sukses” karya Napolion Hill dan lain-lain. Juga buku-buku biografi para pengusaha sukses. Alam mendorong Amal untuk memanfaatkan salah satu buku-buku tentang sukses bisnis, untuk membuka wawasan yang lebih luas tentang proses pembangunan bisnis.
Alam juga mengajak Amal untuk mendalami agama, dengan memberikan Amal buku-buku agama. Alam bercerita bahwa mendalami agama dan mengamalkannya justru akan membuat hidup lebih tenang dan lebih bahagia. Agama akan menjadikan kita menjadi manusia yang bisa menguasai dunia, bukan manusia yang dikuasai dunia.
Berbagi pengalaman dengan Alam yang berlatang belakang pengusaha, ternyata mampu membangkitakan motivasi dan membuka inspirasi. Beberapa kali Amal bertemu dengan Alam. Dia belajar banyak darinya sehingga dia semakin kuat untuk terus mempertahankan bisnisnya, terus focus dan menganggap kesuksesan adalah sebuah proses, dan kegagalan adalah hal yang wajar ditemui oleh orang-orang yang ingin mencapai kesuksesan yang lebih tinggi.
Dia sadar, untuk meneruskan bisnisnya, dia tidak lagi punya modal dan hanya meninggalkan sedikit asset, bahkan dia memiliki hutang yang mulai tidak mampu dicicilnya. Namun dia tidak mau terjebak terus menerus dalam kekalutan dan kefrutasian, dan ingin segera kembali focus untuk menjalankan usahanya. Tidak ada jalan lain, resiko harus diambil, biarlah menjadi miskin kembali, namun tidak boleh kehilangan semangat dan berhenti di tengah jalan. Jalan panjang masih terbuka di depannya. Orang sukses adalah orang berani ambil resiko secara aktif.
Setelah mengkalkulasi dan menganalisa semua masalah dan kebutuhannya, maka Amal memutuskan untuk menjual rumahnya, satu-satunya sisa hasil dari 8 tahun bekerja, yang belum lunas cicilannya. Dia berprinsip dulu tidak punya apa-apa, sekarang pun wajar kalau tidak punya apa-apa. Yang penting masih punya semangat untuk maju menjadi sukses dan bermanfaat untuk orang lain.
Semangat itu pula yang mampu mengalahkan gaya hidup dia yang sudah terlanjur tinggi. Dulu, ketika dia masih bekerja, kemana-mana bawa mobil dan di dompetnya selalu ada uang minimal 200 ribu, kurang dari itu dia merasa tidak punya uang. Sekarang dia banting setir, kemana-mana bawa sepeda motor, di dompetnya tidak lagi banyak uang, kadang-kadang hanya uang 10 ribu yang hanya cukup untuk beli bensin, atau bahkan tidak bawa uang sama sekali.
Dari pada selalu mengenang pekerjaan masa lalu, Amal memilih untuk tetap fokus dengan usahanya. Dia tidak perduli berapa uang yang ada didompetnya, yang paling penting bagaimana usahanya tetap bisa berjalan lagi.
Bukan berarti masalah kemudian selesai dengan dia kembali ke fokus usahanya. Bahkan masalah yang lebih rumit menghadang, salah satu sapinya yang siap untuk dijual, tiba-tiba sakit dan mati. Namun semua itu telah mampu disikapinya dengan cara yang berbeda.
Pernah suatu saat, dia kehabisan uang setelah membayar gaji tenaganya dan melunasi beberapa tagihan.. Bahkan sekedar uang 5 ribu rupiah untuk untuk beli makanpun tidak ada. Dia merasa malu kalau harus meminjam kepada teman atau saudaranya. Akhirnya dia memilih untuk menhan rasa laparnya, sekaligus menguji dirinya sendiri bahwa rizki milik Allah yang Maha Kuasa. Dia yakin bahwa Allah mengatur rizki setiap mahluknya.
Setelah hampir satu hari penuh dia tidak makan, datanglah pertolongan Allah, di mana tiba-tiba salah seorang temannya menelpon dia untuk datang kerumahnya. Anak dari temannya itu sedang ulang tahun, banyak makanan sisa acara ulang tahun yang cukup banyak. Mulai makanan besar sampai makanan ringan. Temannya itu ingin agar Amal mengambil makan dan roti yang ada di rumahnya yang cukup banyak, dan temannya khawatir kalau roti-roti itu mubadzir. Subhanallah, Allahuakbar, alhamdulillahirobbil’alamin, demikian Amal memuji Allah SWT.
Sekalipun kejadian tersebut bukan sesuatu yang besar, namun menambah keyakinan Amal, bahwa manakala sudah sampai pada saatnya dia mendapatkan rizki, maka rizki itu akan datang juga. Pengalaman kecil, namun membuat dirinya semakin sadar bahwa betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT. Perenungan seperti itu tidak dia dapatkan ketika dia masih bekerja, yang setiap bulannya hampir bisa dipastikan mendapat bayaran. Seakan-akan rizki dating dari perusahaan bukan dari Tuhan. Berbeda ketika dia usaha sendiri, bahwa untuk mendapatkan uang yang jumlahnya kecil saja seakan-akan serba tidak pasti.
Lama-lama Amal semakin religius, dan semakin suka mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia merasa bahwa apa yang dia rasakan sekarang ini adalah hidayah dari Allah. Dia sadar bahwa ketika seseorang mengalami masa-masa sulit seperti dirinya, maka bisa saja orang akan lari ke hal-hal yang bersifat klenik atau syirik, atau ke dukun misalnya. Atau bahkan terjebak pada pelarian mencari kesenangan sesaat, minum-minum, bermain judi dan kesenagan lainnya. Untuk itulah dia mensyukuri hidupnya yang justu merasa semakin dekat dengan agama.
Perubahan dalam dirinya ini, mulai dia rasakan membawa dampak yang cukup besar dalam menjalankan usahanya. Ketenangan dalam melihat dan menyikapi setiap masalah memunculkan kreatifitas yang luar biasa. Ide-ide cerdas segera bermunculan, seperti membuat formula makanan sapi yang membuat kotoran sapi tidak lagi berbau menyengat, memanfaatkan kotoran sapi untuk dijadikan pupuk kandang, membuat kolam ikan yang memanfaatkan kotoran sapi muda sebagai pakan ikan dan kreatifitas lainnya. Kreatifitasnya yang sederhana dan mudah diterapkan, menambah pendapatan bisnisnya.
Usahanya memang tidak serta merta lancar dan mendapat keuntungan besar. Namun jalan menuju sukses bisnis telah terbuka lebar, keyakinannya begitu kuat tertanam dalam dirinya, dan menganggap kesuskesan bisnis hanyalah masalah waktu, kalau kita mau tekun, ulet dan sabar. Amal mengembangkan visi usahanya, tidak lagi sekedar untuk mencari keuntungan, namun juga membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain dan menjadikan usahanya tidak hanya tempat mencari nafkah namun juga tempat untuk belajar.
Amal juga pernah kehabisan modal untuk mempertahankan usahanya, tidak bisa pinjam ke Bank, karena tidak punya jaminan. Dan tidak memiliki akses peinjaman ke tempat lain. Dulunya, kadang-kadang Amal pinjaman ke rentenir, namun karena bunganya terlalu tinggi, dia tidak mau lagi pinjam ke rentenir. Usahanya untuk terus mencari sumber modal akhirnya menemukannya dengan seorang investor. Amal menawarkan keuntungan bagi hasil, dan disetujui oleh investornya.
Amal benar-benar mulai memahami bahwa untuk bisnis sendiri tidak tergantung pada besarnya modal uang. Karena dia bangkit lagi membangun usahanya yang bangkrut di saat kehabisan modal dan menanggung sejumlah hutang.
Setelah menemukan bentuk ketenangan, semangat dan keyakinan baru dalam hidupnya, mulai muncul keinginan diri dalam diri Amal untuk menikah. Dulu ketika dia masih mendapatkan gaji 7 juta per bulan dia merasa bahwa uang sebesar itu belum cukup untuk menikah, karena dia merasa belum memiliki rumah sendiri (rumahnya masih cicilan). Namun sekarang ketika pendapatannya tidak pasti, tidak punya rumah dan tidak punya mobil, justru dia menemukan bentuk keyakinan baru, bahwa rizki adalah milik Allah yang Maha Kaya lagi dermawan.
Kebahagiaan hidup berkeluarga bukanlah terletak pada berapa banyak harta yang dimiliki, namun seberapa jauh keluarga kita mampu mendekatkan diri kepada Allah dan mampu saling mencintai karena Allah.
Amal tidak ingin mencari istri dengan berpacaran, namun berusaha dengan cara yang telah diajarkan agama. Dia teringat ucapan seorang temannya, bahwa cinta itu milik Allah SWT. Tugas manusia adalah menjemput cinta itu. Allah bisa memberikan rasa cinta dalam hati setiap manusia, dan sekaligus merubahnya menjadi rasa benci, karena Allah yang menggenggam hati setiap manusia.
Maka, barangsiapa dalam menjalankan kehidupan cintanya sesuai dengan aturan dan kehendak Allah, maka Allah SWT akan menambahkanya sebagai sebuah nikmat. Namun apabila dalam kehidupan percintaannya melanggar aturan-aturanNYA, maka sungguh dia akan celaka dunia-akherat. Dia akan tertipu oleh kesenagan dunia yang mengasyikkan namun tidak membahagiakan. Dia akan tersesat, tanpa merasa bahwa dirinya tersesat, dan menganggap dirinya telah berada pada jalan yang benar. Cintanya akan terombang ambing diantara keinginan dan nafsu.
Amal tidak tahu pasti kapan maksud dan tujuan hidup yang lebih mendalam seperti itu mulai begitu mudah dia terima. Selama ini dia merasa agama dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga ibadahnya tidak karuan, dan kehidupannya pun kacau, jauh dari ketenangan. Yang ada dalam dirinya adalah ambisi-ambisi yang lahir dari keserakahan terhadap kesenangan dan kepuasan keduniaan.
Memang bisnis membutuhkan waktu dan proses untuk mencapai kesuksesannya, dan begitulah hukum dunia ini di tetapkan. Pohon mangga tidak bisa langsung berbuah, namun berproses dari kecil dan secara bertahap melewati siklusnya sendiri sampai bisa berbuah. Di tanah yang tepat dan mendapat sinar matahari dengan baik, pohon mangga itu akan mudah tumbuh dan berkembang, akar-akarnya akan mengembang secara kuat sehingga tidak mudah tumbang oleh hempasan badai. Pada saatnya kemudian akan mulai berbunga dan berbuah, mula-mula buahnya sedikit lama-lama menjadi banyak. Buahnya yang enak dan daunnya yang rindang akan memberi banyak manfaat.
Dalam sebuah bukunya Brian Tracy ditulis, bahwa untuk menjadi pengusaha atau orang disebut berpengalaman dalam usaha, adalah setelah dia menjalani usahanya yang terfokus selama 5 sampai 7 tahun. Upaya untuk mempercepatnya (mempersingkatnya) hanya akan menghasulkan kesia-siaan, membuat struktur usaha menjadi rapuh. Setelah 5 sampai 7 tahun, maka akan mulai muncul kemampuan sesungguhnya dalam menjalankan usahanya.
Setelah berjalan sekitar 6 tahun, sekarang bisnis Amal sudah semakin besar, jumlah sapinya sudah mencapai 200 ekor, dan tenaga kerjanya sudah mencapai 10 orang. Sebulan Amal mendapat keuntungan bersih 15 juta rupiah, setelah dikurangi operasional dan bagi hasil dengan investornya. Dia sudah menyiapkan beberapa rencana pengembangan bisnisnya agar menjadi semakin besar.
Suatu saat Amal bertemu dengan mantan bosnya, dan tahu bisnis bosnya hampir bangkrut. Tenaga kerja hanya tinggal sekitar 100 orang, dan tampaknya sudah berada pada ujung kebangkrutan. Amal tahu dari teman-temannya bahwa semenjak dirinya keluar, perusahaan mulai banyak masalah. Perusahaan sering rugi dan tidak mampu membayar hutang-hutang perusahaan. Di tambah lagi bisnis tekstil yang lagi lesu karena serbuan tekstil impor dari Cina.
Namun menurut Amal masalah mantan bosnya semakin parah karena perilaku bosnya sendiri yang kehilangan jiwa kewirausahaannya (entrepreurship) ketika berada dipuncak kesuksesannya. Menjadi takut pada resiko menjadi bangkrut dan miskin, takut mencoba sesuatu yang baru karena takut salah. Terjebak pada kepuasaan akan hasil sehingga membuatnya berorientasi jangka pendek, dan tidak memiliki pikiran dan rencana jangka panjang. Dan kehilangan naluri bisnisnya sehingga tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.
Amal merasa kasihan dengan mantan bosnya, karena kehidupannya sangat kacau dan jauh dari agama. Setiap malam berfoya-foya, memburu kesenangan dunia malam dan selalu pulang ke rumah dalam kondisi kelelahan. Rumah tangganya pun kacau, dan tidak ada lagi kejururan dalam rumah tangganya. Ingin sekali suatu saat, Amal bisa menolong mantan bosnya, agar segera kembali ke jalan yang lurus dan bangkit lagi menjadi pengusaha yang lebih baik dan bermanfaat.
Kesuksesan Amal memang belum setinggi yang pernah dicapai oleh mantan bosnya. Namun dia yakin bahwa seiring perjalanan waktu, dia akan mampu melampauinya.
Amal menjadikan kebangkrutan bosnya sebagai pelajaran yang sangat berharga, khususnya ketika seseorang sedang berada tangga kesuksesan, agar tidak mudah lupa diri. Kita perlu selalu memperbaiki diri kita dan menyelaraskan dengan perubahan. Apa yang kita anggap sukses saat ini, belum tentu, bahkan seringkali tidak bisa menjadi acuan sukses untuk tahun-tahun berikutnya.
Dunia selalu berubah sekalipun ada yang tampaknya selalu sama, seperti matahari yang selalu muncul dari timur dan tenggelam ke arah barat. Namun sadarkah kita bahwa setiap hari ada manusia yang mati dan ada pula anak yang baru lahir. Kemampuan untuk membaca dan memahami perubahan akan banyak membantu kita melewati hidup ini dengan lebih manfaat dan lebih cerdas.
Penolakan dari bosnya ini sangat membuatnya kecewa, karena waktu itu dia adalah manajer bagian produksi yang membawahi paling banyak tenaga kerja, kurang lebih 1000 orang.
Sudah seringkali anak buahnya mengeluh tentang mekanisme ijin tidak masuk kerja, waktu istirahat, waktu beribadah dan kenaikan gaji. Kasus yang sering muncul adalah sulitnya proses ijin tidak masuk kerja khususnya kalau ada karyawan yang anggota keluarganya tiba-tiba sakit.
Selain tidak ada asuransi untuk anggota keluarga, juga tidak ada perhatian dari perusahaannya terhadap keluarga karyawannya. Bahkan apabila karyawan nekat membolos kerja, maka sangsinya pemotongan gaji.
Menurut Amal, sistem yang buruk akan berdampak pada pekerja sekaligus perusahaan, karena ketidaktenangan dan ketidaknyamanan dalam bekerja akan membuat karyawan tidak fokus dan berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan.
Sudah lama Amal memendam perasaan itu, sampai kesabarannya mulai habis dan berpikir untukj segera keluar dari pekerjaannya. Sering Amal merasa heran sendiri kenapa bosnya menolak pembaharuan sistem yang justru akan menguntungkan kedua belah pihak, baik perusahaan maupun karyawannya.
Amal adalah seorang pemuda yang memiliki keinginan untuk menjadi orang sukses yang kaya dan bermanfaat untuk banyak orang. Perjalanan karirnya dimulai dengan menjadi seorang pekerja, karena Amal merasa tidak punya modal untuk berusaha sendiri. Dia percaya bahwa dengan bekerja baik dan tekun maka dia akan mampu mewujudkan cita-citanya, yaitu memiliki karir yang bagus dan gaji yang tinggi. Cara pandangnya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan keluarganya yang mendorongnya untuk segera bekerja selepas dia kuliah.
Keluarga dan lingkungan Amal tidak jauh berbeda dalam melihat pekerjaan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dimana sebagian besar keluarga dan lingkungan sosial mengajarkan “belajarlah yang keras pada saat sekolah, capailah nilai dan rangking tertinggi, kemudian dapatkan kerja yang terbaik dengan gaji yang besar”. Atau jadilah pegawai negeri sipil (PNS), karena jadi PNS akan membuatmu mendapat gaji dan pensiun seumur hidup. Itulah cara hidup terbaik.
Namun setelah melihat gaji PNS yang tidak begitu besar, dan juga cara kerja PNS yang kurang profesional, Amal berpikir kalau lebih baik dia kerja di perusahaan swasta yang bisa memberikan gaji lebih besar dari PNS, juga dilihatnya pekerja diperusahaan swasta lebih dinamis dan menantang.
Begitu selesai kuliah, amal melamar pekerjaan di banyak perusahaan yang menurutnya cocok untuk meniti karirnya. Akhirnya Amal diterima bekerja pada sebuah perusahaan textil.
Dia seorang pekerja yang baik, loyal, aktif dan tekun. Jabatan kepala produksi yang di capainya setelah 5 tahun berkerja telah menunjukkan bahwa dia pada dasarnya adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk meraih prestasi dalam dunia kerja.
Awalnya dia cukup puas dengan apa yang dikerjakan dan gaji yang dia dapatkan. Kemudian setelah 7 tahun bekerja, dan posisinya sudah menjadi seorang manajer, barulah mulai muncul ketidakpuasan dalam perjalanan hidupnya untuk mencapai cita-cita.
Ketika dulu dia masih menjadi staf biasa, dia memimpikan untuk merubah suasana dan atmosfir kerja yang lebih memberdayakan dan partispatif untuk semua karyawan. Dia percaya bahwa gagasannya justru akan membuat perusahaan bisa lebih efisien dan efektif. Sebagai staf biasa yang tidak memiliki wewenang apapun untuk mengambil keputusan, dia tidak berdaya untuk merubahnya. Dia berharap setelah mendapat jabatan penting akan mampu mempengaruhi kebijakan perusahaan dan melakukan perubahan.
Setelah 7 tahun bekerja, dia baru sadar bahwa perubahan itu tidak mudah, karena bosnya (pemilik perusahaan) adalah seorang pemikir tradisonal, dengan gaya manajemen masa lalu yang cenderung otoriter dan lebih berorientasi pada keuntungan, dan hampir tidak peduli dengan kesejahteraan karyawan.
Amal telah bekerja keras, penuh loyalitas, serta sering lembur dengan menambah jam kerja untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaannya. Namun itu semua ternyata belum mampu meyakinkan bosnya bahwa dia memiliki gagasan yang baik untuk merubah sistem kerja perusahaan. Sekalipun seorang pengusaha, namun cara berpikir bosnya justru tidak berkembang dan seringkali berorientasi jangka pendek dan takut akan kebangkrutan.
Padahal menurut cerita, bosnya dulu juga memulai dari nol untuk menjadi pengusaha besar. Memiliki kepribadian yang menyenangkan, memiliki keberanian, keuletan dan ketekunan sampai perusahaannya menjadi berkembang. Namun, dia tidak melihat sifat-sifat itu lagi di dalam diri bosnya.
Akhirnya Amal mulai merasa menemukan ketidaknyamanan dalam dunia kerja. Sampai tahun ke 8, dia masih bertahan, namun perlakuan yang diterima dari bosnya justru semakin membuatnya merasa kecewa. Gajinya tidak dinaikkan dan permintaanya untuk mengganti fasilitas mobilnya juga ditolak, sudah 2 tahun terakhir ini gaji dan fasilitasnya tidak berubah.
Padahal dia merasa telah ikut membesarkan perusahaan. Ketika dia baru masuk, tenaga diperusahaanya baru 400 orang. 5 tahun berikutnya sudah berkembang sampai 1000 orang, dan keuntungan perusahaan telah meningkat pesat. Kalaupun selama 2 tahun terakhir perusahaan menjadi stagnan, lebih dikarenakan bosnya tidak tanggap terhadap tuntutan perubahan.
Dia merasa bahwa loyalitas dan integritasnya telah dipahami secara salah oleh bosnya. Amal merasa diperlakukan secara tidak adil. Bekerja secara loyal, tekun dan professional, serta mampu membesarkan perusahaan, ternyata tidak secara otomatis menaikkan gajinya. Karena gajinya masih tergantung dengan si Bos. Selama ini dia tidak begitu menghiraukan, karena yang paling penting memberikan yang terbaik untuk perusahaan, sambil berharap bahwa suatu saat bosnya atau perusahaannya akan memberikan gaji yang sepadan.
Amal mulai merasa jauh dari kesuksesan yang pernah diimpikannya, dan pendapatan yang dia terima semakin tidak mencukupi kebutuhan bulanannya. Karena gaji 7,5 juta rupiah sebulan, fasilitas mobil dan tunjangan lainnya, selalu habis setiap bulannya. Sebagian besar gajinya digunakan untuk membatu adik-adiknya yang masih sekolah dan kuliah. Dulunya dia bermimpi untuk membahagiakan orangtuanya, menaikkan haji orang tuanya, dan masih banyak keinginan lainnya. Namun, impian itu sampai sekarang belum tercapai.
Sebenarnya Amal sudah sangat bersyukur kepada Tuhan dengan keadaannya sekarang, namun dia belum merasa sukses. Dia merasa ada kelebihan-kelebihan energi lain dalam dirinya yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Dia merasa terkekang oleh sistem kerja perusahaannya, dan kurang memiliki aktualisasi lain yang bisa dikembangkan.
Pada suatu hari, setelah 8 tahun penuh bekerja, dan mulai meragukan bahwa bekerja adalah jalan terbaik meraih cita-citanya, Amal bertemu dengan seorang teman lamanya yang kebetulan semenjak lulus kuliah langsung usaha. Usaha temannya terlihat belum besar namun ternyata sudah memiliki keuntungan bersih rata-rata 10 juta per bulan.
Temannya ini tampak hidup bersahaja, rajin beribadah, banyak menolong orang lain, sudah naik haji, berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Karyawannya ada sekitar 20 orang dan tampaknya juga rajin beribadah dan suasananya pun teduh dan nyaman. Dia membandingkan dengan dirinya yang belum berkeluarga, belum punya rumah dan bahkan tidak memiliki tabungan. Sekalipun setiap hari dia naik mobil bagus fasilitas perusahaan, namun sebenarnya dia tidak lebih kaya dibandingkan dengan temannya yang pengusaha itu.
Padahal 4 tahun yang lalu ketika dia sudah menjadi kepala produksi, temannya ini masih biasa-biasa saja, bisnisnya masih belum berjalan dan kehidupannya tampak pas-pasan, bahkan belum punya sepeda motor. Namun, sekarang tampaknya seperti terbalik, usaha temannya itu telah besar, menjadi kaya dan tampak menikmati pekerjaannya. Sementara dia sendiri berangkat kerja jam 7 pagi, pulangnya jam 9 malam bahkan kadang sampai jam 12 malam.
Dia tidak tahu persis bagaimana temennya ini menjadi sukses, karena 3 tahun terakhir dia sudah jarang ketemu, di mana Amal semakin sibuk dan temannya juga semakin sibuk.
Dari rasa tertarik akan kesuksesan temannya, akhirnya Amal menjadi sering ketemu dan diskusi dengan temannya itu tentang dunia bisnis dan enaknya menjadi pengusaha. Amal menemukan bedanya hidup menjadi pekerja dan menjadi seorang pengusaha. Dan dari temenya itulah kemudian dia mendapatkan sebuah buku tentang motivasi untuk menjadi seorang yang sukses.
Buku yang diberikan pada dia itu berjudul “Berpikir dan Berjiwa Besar” karangan dari DJ Scwartch. Buku itu mampu memotivasi secara kuat untuk merubah jalan hidupnya, dengan berniat untuk menjadi pengusaha.
Yang paling menarik setelah membaca buku itu, adalah kata-kata mutiara “kalau kau yakin bisa sukses, maka kau akan suskes”. Kesuksesan anda diukur oleh seberapa besar keyakinan anda terhadap kesuksesan itu sendiri.
Dalam waktu yang tidak lama kemudian Amal memutuskan untuk menjadi pengusaha, dan segera mengajukan permohonan mundur dari pekerjaannya. Bosnya sangat terkejut dan kaget dengan keputusannya, dan berharap bahwa Amal tidak mengundurkan diri, menawarkan gaji yang lebih tinggi dan fasilitas yang lebih baik. Namun Amal tidak perduli lagi, sudah terlalu lama dia bersabar, dan merasa sudah mantap dan yakin untuk keluar dari perusahaannya dan membangun usaha sendiri. Apakah kemudian Amal langsung menjadi pengusaha sukses ????
Pada awalnya Amal begitu meyakini bahwa bisnisnya akan segera berjalan dan menguntungkan setelah 1 tahun berjalan. Namun ternyata setelah 2 tahun bisnisnya berjalan, terbukti dengan jelas bahwa usaha sendiri ternyata tidak semudah dan secepat yang dibayangkan sebelumnya. Tidak seperti yang digambarkan oleh buku-buku yang pernah dibacanya. Bahkan usaha yang didirikannya cenderung merugi dan seakan-akan sedang menuju kebangkrutan dari pada keberhasilan.
Dia tidak lagi mampu membantu biaya sekolah adiknya, yang untungnya tinggal satu orang karena adiknya yang 1 lagi sudah selesai kuliah. Cicilan rumah yang terlanjur dia beli saat dia masih bekerja, juga tidak sanggup lagi dia teruskan, sebesar 2,5 juta setiap bulannya.
Bisnis yang dikembangkan oleh Amal adalah beternak sapi (pembesaran/penggemukan sapi). Dengan cara membeli sapi yang kecil atau bibit sapi kemudian dipelihara sekitar 3 sampai 4 bulan kemudian dijualnya. Hasilnya sebenarnya cukup menguntungkan, karena banyak pengusaha ternak sapi lain yang sudah sukses. Dia memilih beternak sapi karena mengetahui bahwa daging sapi sebagian besar besar masih impor, sehingga dia melihat bisnis ini cukup menguntungkan untuk jangka panjang. Didukung kondisi perekonomian yang semakin membaik dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang akan membuat konsumsi daging juga meningkat.
Setelah berjalan 2 tahun, dan tidak menemukan tanda-tanda keberhasilan dalam bisnisnya, Amal mulai ragu dan gelisah. Mulai muncul pertanyaan dari dalam dirinya. Apakah saya benar-benar mampu untuk menjadi pengusaha? Apakah benar-benar diperlukan “bakat” untuk menjadi pengusaha? Apakah saya telah gagal? Perlukah saya untuk ganti dari bisnis peternakan sapi ke bisnis yang lain? Ataukah saya harus kembali menjadi pekerja?
Sekitar 4 bulan lamanya Amal terjebak dalam kondisi itu, antara terus bisnis atau dia perlu mengambil jalan lain. Logika dan nalarnya benar-benar mengalami kebuntuan dan tidak mampu lagi mencari jalan terbaik apa yang perlu segera dilakukan.
Bisnisnya memang masih berjalan, tetapi dari 15 sapi yang semula dipelihara tinggal menjadi 8 sapi, yang keuntungannya tidak mampu lagi menutup operasionalnya dan gaji tenaganya. Belum lagi kalau tiba-tiba sapinya ada yang kena penyakit yang semakin memperbesar pengeluarannya. Dan yang lebih penting adalah cicilan hutang yang harus dia bayar tiap bulannya, karena telat sedikit akan langsung dikejar-kejar pihak Bank.
Pengalaman menemui kesulitan bisnis sendiri yang baru pertama kali dia temui, benar-benar menimbulkan keraguan yang mendalam. Dia merasa tidak percaya diri, bahkan rendah diri, malu keluar rumah, malu ketemu teman-teman lamanya, bahkan malu bertemu dengan keluarganya, karena dirinya sudah tidak bisa membantu keluarga lagi. Dia merasa malu, karena merasa telah gagal dan tidak ada yang perlu dibanggakan lagi.
Ketika masalah ini dia ceritakan pada teman-teman lamanya yang masih bekerja, mereka menyalahkan dan menyesalkan kenapa Amal harus keluar kerja. Berbagi dan ngobrol dengan teman-temannya yang pekerja justru membuat Amal semakin frustasi dan tidak tahu jalan mana yang harus diambil.
Dia teringat ketika baru akan memulai usaha, betapa saudara dan orangtuanya sangat menentangnya. Mereka menentang keinginan Amal untuk berhenti bekerja, dan membuka usaha sendiri. Keluarganya menganggap bahwa usaha sendiri itu penuh dengan resiko. Ya kalau lancar, kalau bangrut siapa yang menanggung??? Bahkan keluarganya mencontohkan orang-orang disekitar mereka yang berusaha sendiri, dan sekarang bangkrut. Dia merasa dalam kondisi yang benar-benar sulit. Di dalam dirinya selalu muncul pertanyaan yang sulit dijawabnya, haruskah dia berhenti wirausaha, dan kembali menjadi pekerja???
Untunglah Amal masih memiliki seorang teman yang pengusaha, yang mampu dan mau memotivasinya dia untuk terus bertahan dalam usahanya. Dia menemui lagi temannya itu, dan semakin merasa kagum karena temennya ini, karena usahanya semakin besar saja, bahkan keuntungan bersih rata-rata setiap bulan sudah mencapai 20 juta rupiah. Temannya itu bernama Alam.
Melihat Amal menghadapai masalah dalam merintis usahanya, maka Alam sebagai pengusaha yang sukses merintis dari nol, berusaha untuk membagikan pengalamannya kepada Amal. Alam mengatakan bahwa setiap kita ingin menaiki tangga kesuksesan, maka diperlukan sebuah perjuangan, dan harus berani melewati kegagalan. Alam bercerita bahwa dirinya juga mengalami hal yang sama di awal usahanya, sampai 3 tahun berjalan, usaha si Alam tidak menghasilkan keuntungan yang memadai, bahkan untuk beli makan sehari-hari tidak cukup.
“Rizki itu milik Allah SWT, tugas kita hanya menjemputnya dengan usaha kita”, kata Alam kepada Amal. “Ketika usaha kita belum memberikan hasil, maka bersabarlah, karena disetiap kesulitan itu ada kemudahan.” Alam menjelaskan begitulah Al Quran mengajarkan pada kita.
Setiap keinginan kita untuk suskes dalam usaha dunia, dibutuhkan pengetahuan dan cara mendapatkannya. Kalau kita sudah mampu menguasainya, maka dengan sendirinya kesuksesan bisnis akan begitu mudah kita dapatkan. Namun, semua itu butuh proses dan pembelajaran, sampai kemudian kita menemukan titik di mana usaha yang kita bangun menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan.
Sebagaimana orang sekolah, maka untuk naik kelas saja kita harus melewati test dan ujian. Barangkali kita tidak lulus test atau ujian, atau kita lulus dengan nilai jelek, tetapi kalau kita selalu bersungguh-sungguh, tekun dan ulet, maka lama-lama kita akan menjadi orang yang semakin pintar. Apalagi dalam dunia bisnis, yang tidak mengenal kelas dan siapa guru dan pengujinya.
Alam menceritakan dengan panjang lebar, dan menyarankan Amal untuk mebaca buku-buku yang berisi tentang motivasi bisnis lainnya. Seperti buku berjudul “Rich Dad Poor Dad” karya Robert T Kitosaki, buku “Emotional Spiritual Quation (ESQ)” karya Ari Ginanjar Agustian, “Menjadi Kaya dengan Cara Anda Sendiri” karya Brian Tracy, “Huku Sukses” karya Napolion Hill dan lain-lain. Juga buku-buku biografi para pengusaha sukses. Alam mendorong Amal untuk memanfaatkan salah satu buku-buku tentang sukses bisnis, untuk membuka wawasan yang lebih luas tentang proses pembangunan bisnis.
Alam juga mengajak Amal untuk mendalami agama, dengan memberikan Amal buku-buku agama. Alam bercerita bahwa mendalami agama dan mengamalkannya justru akan membuat hidup lebih tenang dan lebih bahagia. Agama akan menjadikan kita menjadi manusia yang bisa menguasai dunia, bukan manusia yang dikuasai dunia.
Berbagi pengalaman dengan Alam yang berlatang belakang pengusaha, ternyata mampu membangkitakan motivasi dan membuka inspirasi. Beberapa kali Amal bertemu dengan Alam. Dia belajar banyak darinya sehingga dia semakin kuat untuk terus mempertahankan bisnisnya, terus focus dan menganggap kesuksesan adalah sebuah proses, dan kegagalan adalah hal yang wajar ditemui oleh orang-orang yang ingin mencapai kesuksesan yang lebih tinggi.
Dia sadar, untuk meneruskan bisnisnya, dia tidak lagi punya modal dan hanya meninggalkan sedikit asset, bahkan dia memiliki hutang yang mulai tidak mampu dicicilnya. Namun dia tidak mau terjebak terus menerus dalam kekalutan dan kefrutasian, dan ingin segera kembali focus untuk menjalankan usahanya. Tidak ada jalan lain, resiko harus diambil, biarlah menjadi miskin kembali, namun tidak boleh kehilangan semangat dan berhenti di tengah jalan. Jalan panjang masih terbuka di depannya. Orang sukses adalah orang berani ambil resiko secara aktif.
Setelah mengkalkulasi dan menganalisa semua masalah dan kebutuhannya, maka Amal memutuskan untuk menjual rumahnya, satu-satunya sisa hasil dari 8 tahun bekerja, yang belum lunas cicilannya. Dia berprinsip dulu tidak punya apa-apa, sekarang pun wajar kalau tidak punya apa-apa. Yang penting masih punya semangat untuk maju menjadi sukses dan bermanfaat untuk orang lain.
Semangat itu pula yang mampu mengalahkan gaya hidup dia yang sudah terlanjur tinggi. Dulu, ketika dia masih bekerja, kemana-mana bawa mobil dan di dompetnya selalu ada uang minimal 200 ribu, kurang dari itu dia merasa tidak punya uang. Sekarang dia banting setir, kemana-mana bawa sepeda motor, di dompetnya tidak lagi banyak uang, kadang-kadang hanya uang 10 ribu yang hanya cukup untuk beli bensin, atau bahkan tidak bawa uang sama sekali.
Dari pada selalu mengenang pekerjaan masa lalu, Amal memilih untuk tetap fokus dengan usahanya. Dia tidak perduli berapa uang yang ada didompetnya, yang paling penting bagaimana usahanya tetap bisa berjalan lagi.
Bukan berarti masalah kemudian selesai dengan dia kembali ke fokus usahanya. Bahkan masalah yang lebih rumit menghadang, salah satu sapinya yang siap untuk dijual, tiba-tiba sakit dan mati. Namun semua itu telah mampu disikapinya dengan cara yang berbeda.
Pernah suatu saat, dia kehabisan uang setelah membayar gaji tenaganya dan melunasi beberapa tagihan.. Bahkan sekedar uang 5 ribu rupiah untuk untuk beli makanpun tidak ada. Dia merasa malu kalau harus meminjam kepada teman atau saudaranya. Akhirnya dia memilih untuk menhan rasa laparnya, sekaligus menguji dirinya sendiri bahwa rizki milik Allah yang Maha Kuasa. Dia yakin bahwa Allah mengatur rizki setiap mahluknya.
Setelah hampir satu hari penuh dia tidak makan, datanglah pertolongan Allah, di mana tiba-tiba salah seorang temannya menelpon dia untuk datang kerumahnya. Anak dari temannya itu sedang ulang tahun, banyak makanan sisa acara ulang tahun yang cukup banyak. Mulai makanan besar sampai makanan ringan. Temannya itu ingin agar Amal mengambil makan dan roti yang ada di rumahnya yang cukup banyak, dan temannya khawatir kalau roti-roti itu mubadzir. Subhanallah, Allahuakbar, alhamdulillahirobbil’alamin, demikian Amal memuji Allah SWT.
Sekalipun kejadian tersebut bukan sesuatu yang besar, namun menambah keyakinan Amal, bahwa manakala sudah sampai pada saatnya dia mendapatkan rizki, maka rizki itu akan datang juga. Pengalaman kecil, namun membuat dirinya semakin sadar bahwa betapa kecilnya kita di hadapan Allah SWT. Perenungan seperti itu tidak dia dapatkan ketika dia masih bekerja, yang setiap bulannya hampir bisa dipastikan mendapat bayaran. Seakan-akan rizki dating dari perusahaan bukan dari Tuhan. Berbeda ketika dia usaha sendiri, bahwa untuk mendapatkan uang yang jumlahnya kecil saja seakan-akan serba tidak pasti.
Lama-lama Amal semakin religius, dan semakin suka mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia merasa bahwa apa yang dia rasakan sekarang ini adalah hidayah dari Allah. Dia sadar bahwa ketika seseorang mengalami masa-masa sulit seperti dirinya, maka bisa saja orang akan lari ke hal-hal yang bersifat klenik atau syirik, atau ke dukun misalnya. Atau bahkan terjebak pada pelarian mencari kesenangan sesaat, minum-minum, bermain judi dan kesenagan lainnya. Untuk itulah dia mensyukuri hidupnya yang justu merasa semakin dekat dengan agama.
Perubahan dalam dirinya ini, mulai dia rasakan membawa dampak yang cukup besar dalam menjalankan usahanya. Ketenangan dalam melihat dan menyikapi setiap masalah memunculkan kreatifitas yang luar biasa. Ide-ide cerdas segera bermunculan, seperti membuat formula makanan sapi yang membuat kotoran sapi tidak lagi berbau menyengat, memanfaatkan kotoran sapi untuk dijadikan pupuk kandang, membuat kolam ikan yang memanfaatkan kotoran sapi muda sebagai pakan ikan dan kreatifitas lainnya. Kreatifitasnya yang sederhana dan mudah diterapkan, menambah pendapatan bisnisnya.
Usahanya memang tidak serta merta lancar dan mendapat keuntungan besar. Namun jalan menuju sukses bisnis telah terbuka lebar, keyakinannya begitu kuat tertanam dalam dirinya, dan menganggap kesuskesan bisnis hanyalah masalah waktu, kalau kita mau tekun, ulet dan sabar. Amal mengembangkan visi usahanya, tidak lagi sekedar untuk mencari keuntungan, namun juga membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain dan menjadikan usahanya tidak hanya tempat mencari nafkah namun juga tempat untuk belajar.
Amal juga pernah kehabisan modal untuk mempertahankan usahanya, tidak bisa pinjam ke Bank, karena tidak punya jaminan. Dan tidak memiliki akses peinjaman ke tempat lain. Dulunya, kadang-kadang Amal pinjaman ke rentenir, namun karena bunganya terlalu tinggi, dia tidak mau lagi pinjam ke rentenir. Usahanya untuk terus mencari sumber modal akhirnya menemukannya dengan seorang investor. Amal menawarkan keuntungan bagi hasil, dan disetujui oleh investornya.
Amal benar-benar mulai memahami bahwa untuk bisnis sendiri tidak tergantung pada besarnya modal uang. Karena dia bangkit lagi membangun usahanya yang bangkrut di saat kehabisan modal dan menanggung sejumlah hutang.
Setelah menemukan bentuk ketenangan, semangat dan keyakinan baru dalam hidupnya, mulai muncul keinginan diri dalam diri Amal untuk menikah. Dulu ketika dia masih mendapatkan gaji 7 juta per bulan dia merasa bahwa uang sebesar itu belum cukup untuk menikah, karena dia merasa belum memiliki rumah sendiri (rumahnya masih cicilan). Namun sekarang ketika pendapatannya tidak pasti, tidak punya rumah dan tidak punya mobil, justru dia menemukan bentuk keyakinan baru, bahwa rizki adalah milik Allah yang Maha Kaya lagi dermawan.
Kebahagiaan hidup berkeluarga bukanlah terletak pada berapa banyak harta yang dimiliki, namun seberapa jauh keluarga kita mampu mendekatkan diri kepada Allah dan mampu saling mencintai karena Allah.
Amal tidak ingin mencari istri dengan berpacaran, namun berusaha dengan cara yang telah diajarkan agama. Dia teringat ucapan seorang temannya, bahwa cinta itu milik Allah SWT. Tugas manusia adalah menjemput cinta itu. Allah bisa memberikan rasa cinta dalam hati setiap manusia, dan sekaligus merubahnya menjadi rasa benci, karena Allah yang menggenggam hati setiap manusia.
Maka, barangsiapa dalam menjalankan kehidupan cintanya sesuai dengan aturan dan kehendak Allah, maka Allah SWT akan menambahkanya sebagai sebuah nikmat. Namun apabila dalam kehidupan percintaannya melanggar aturan-aturanNYA, maka sungguh dia akan celaka dunia-akherat. Dia akan tertipu oleh kesenagan dunia yang mengasyikkan namun tidak membahagiakan. Dia akan tersesat, tanpa merasa bahwa dirinya tersesat, dan menganggap dirinya telah berada pada jalan yang benar. Cintanya akan terombang ambing diantara keinginan dan nafsu.
Amal tidak tahu pasti kapan maksud dan tujuan hidup yang lebih mendalam seperti itu mulai begitu mudah dia terima. Selama ini dia merasa agama dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga ibadahnya tidak karuan, dan kehidupannya pun kacau, jauh dari ketenangan. Yang ada dalam dirinya adalah ambisi-ambisi yang lahir dari keserakahan terhadap kesenangan dan kepuasan keduniaan.
Memang bisnis membutuhkan waktu dan proses untuk mencapai kesuksesannya, dan begitulah hukum dunia ini di tetapkan. Pohon mangga tidak bisa langsung berbuah, namun berproses dari kecil dan secara bertahap melewati siklusnya sendiri sampai bisa berbuah. Di tanah yang tepat dan mendapat sinar matahari dengan baik, pohon mangga itu akan mudah tumbuh dan berkembang, akar-akarnya akan mengembang secara kuat sehingga tidak mudah tumbang oleh hempasan badai. Pada saatnya kemudian akan mulai berbunga dan berbuah, mula-mula buahnya sedikit lama-lama menjadi banyak. Buahnya yang enak dan daunnya yang rindang akan memberi banyak manfaat.
Dalam sebuah bukunya Brian Tracy ditulis, bahwa untuk menjadi pengusaha atau orang disebut berpengalaman dalam usaha, adalah setelah dia menjalani usahanya yang terfokus selama 5 sampai 7 tahun. Upaya untuk mempercepatnya (mempersingkatnya) hanya akan menghasulkan kesia-siaan, membuat struktur usaha menjadi rapuh. Setelah 5 sampai 7 tahun, maka akan mulai muncul kemampuan sesungguhnya dalam menjalankan usahanya.
Setelah berjalan sekitar 6 tahun, sekarang bisnis Amal sudah semakin besar, jumlah sapinya sudah mencapai 200 ekor, dan tenaga kerjanya sudah mencapai 10 orang. Sebulan Amal mendapat keuntungan bersih 15 juta rupiah, setelah dikurangi operasional dan bagi hasil dengan investornya. Dia sudah menyiapkan beberapa rencana pengembangan bisnisnya agar menjadi semakin besar.
Suatu saat Amal bertemu dengan mantan bosnya, dan tahu bisnis bosnya hampir bangkrut. Tenaga kerja hanya tinggal sekitar 100 orang, dan tampaknya sudah berada pada ujung kebangkrutan. Amal tahu dari teman-temannya bahwa semenjak dirinya keluar, perusahaan mulai banyak masalah. Perusahaan sering rugi dan tidak mampu membayar hutang-hutang perusahaan. Di tambah lagi bisnis tekstil yang lagi lesu karena serbuan tekstil impor dari Cina.
Namun menurut Amal masalah mantan bosnya semakin parah karena perilaku bosnya sendiri yang kehilangan jiwa kewirausahaannya (entrepreurship) ketika berada dipuncak kesuksesannya. Menjadi takut pada resiko menjadi bangkrut dan miskin, takut mencoba sesuatu yang baru karena takut salah. Terjebak pada kepuasaan akan hasil sehingga membuatnya berorientasi jangka pendek, dan tidak memiliki pikiran dan rencana jangka panjang. Dan kehilangan naluri bisnisnya sehingga tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.
Amal merasa kasihan dengan mantan bosnya, karena kehidupannya sangat kacau dan jauh dari agama. Setiap malam berfoya-foya, memburu kesenangan dunia malam dan selalu pulang ke rumah dalam kondisi kelelahan. Rumah tangganya pun kacau, dan tidak ada lagi kejururan dalam rumah tangganya. Ingin sekali suatu saat, Amal bisa menolong mantan bosnya, agar segera kembali ke jalan yang lurus dan bangkit lagi menjadi pengusaha yang lebih baik dan bermanfaat.
Kesuksesan Amal memang belum setinggi yang pernah dicapai oleh mantan bosnya. Namun dia yakin bahwa seiring perjalanan waktu, dia akan mampu melampauinya.
Amal menjadikan kebangkrutan bosnya sebagai pelajaran yang sangat berharga, khususnya ketika seseorang sedang berada tangga kesuksesan, agar tidak mudah lupa diri. Kita perlu selalu memperbaiki diri kita dan menyelaraskan dengan perubahan. Apa yang kita anggap sukses saat ini, belum tentu, bahkan seringkali tidak bisa menjadi acuan sukses untuk tahun-tahun berikutnya.
Dunia selalu berubah sekalipun ada yang tampaknya selalu sama, seperti matahari yang selalu muncul dari timur dan tenggelam ke arah barat. Namun sadarkah kita bahwa setiap hari ada manusia yang mati dan ada pula anak yang baru lahir. Kemampuan untuk membaca dan memahami perubahan akan banyak membantu kita melewati hidup ini dengan lebih manfaat dan lebih cerdas.
Membangun Mindset Wirausaha 1
http://rohadientrepreneurship.blogspot.com/2011/02/membangun-mindset-wirausaha.html
Mencoba menemukan pengertian dasar dari sebuah kata ‘wirausaha’ ibarat menterjemahkan kata ‘kesejahteraan’ dalam makna yang tepat. Wirausaha layaknya sebuah koridor yang menuntun kita ke satu titik baik dari sisi kehidupan. Meski menapak setiap langkah di koridor itu tak semudah (hanya) mengayunkan kedua kaki kita saja. Kita butuh keyakinan dan keteguhan hati yang besar.
Dunia usaha merupakan sebuah ranah yang rentan akan resiko dan masalah praktis. Kekuatan usaha, manajemen, kepemimpinan, kebutuhan akan ide-ide teknis pengembangan, terakumulasi menjadi semacam kompleksitas persoalan dalam merealisasikannya. Memiliki ide yang brilian sekalipun belum tentu menjadi jaminan bahwa kita bisa menghadirkannya menjadi satu ladang usaha riil. Belum persoalan modal yang entah terlihat begitu mudah namun sulit dalam pengadaannya. Banyaknya progam-program pemerintah yang menawarkan peluang kepada kita selaku calon pelaku usaha dalam hal permodalan, pun belum bisa menarik perhatian dan mendongkrak angka pelaku usaha secara signifikan.
Berwirausaha bukanlah sesuatu yang instan. Pengalaman akan iklim yang sering kita rasakan menjadi poin penting dalam tiap langkah pelaksanaannya. Lembaga-lembaga kewirausahaan, materi, teori dan hal-hal lain di dalamnya tidak akan mampu menciptakan pengusaha yang handal. Sosok pelaku bisnis yang tangguh bukanlah lahir dari sesuatu yang biasa-biasa saja, namun lebih dari luar biasa. Jadi, berhentilah berfikir menggarap suatu sistem percepatan atau studi cepat dalam membentuk karakter wirausaha. Ketangguhan seseorang pelaku wirausaha bukanlah di ukur dari seberapa cepat , tetapi seberapa jauh dia melangkah. Artinya ada proses dalam pengadaannya, ada waktu yang sejatinya kita isi dengan penanaman nilai wirausaha secara intens dan berkelanjutan sejak dini.
Sebenarnya sudah banyak sekali pelatihan, seminar hingga lembaga-lembaga terkait yang mengangkat isu wirausaha sebagai sajian utamanya. Tak ayal pesertanya pun selalu banyak, ini mengindikasikan bahwa semangat membangun negeri ini melalui wirausaha mulai tren di tengah masyarakat. Persoalan sosial yang tak berujung kata solusi, secara tidak langsung memaksa kita untuk senantiasa berbenah diri menuju arah yang lebih baik. Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana sikap dan langkah kita mewujudkan semua itu menjadi satu paket kesuksesan. Kuncinya adalah pemahaman dasar kita terhadap simbol kewirausahaan itu sendiri. Bagaimana kemudian kita memaknai wirausaha sebagai satu profesi yang berperan penting dalam membangun negeri ini. Bagaimana membangun mindset wirausaha sebagai sebuah profesi elegan. Selanjutnya menanamkan kesemua pemahamanan itu kepada kader-kader negeri ini sejak dini.
Pengalaman merupakan guru paling berharga dalam setiap aspek kehidupan kita. Pengalaman mengajarkan kita segala hal tentang persoalan yang kelak akan sering kita hadapi. Suasana-suasana yang sarat akan masalah beserta pemecahannya akan membentuk pribadi tangguh di dalam diri kita. Pribadi yang kebal akan kegagalan dan syukur atas pencapaian. Kita harus terbiasa dengan suasana yang sering membuat kita tidak nyaman, suasana yang menuntut kemandirian, suasana yang memaksa kita untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan kita sendiri. Caranya adalah membangun lingkungan itu sendiri dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Mulai dari keluarga hingga sosial masyarakat.
Selama belasan tahun, dalam sejarah karir kependidikan yang saya jalani, saya nyaris tidak menemukan sekalipun kesemua hal itu. Artinya bahwa pendidikan formal melalui tujuan nasionalnya, tidak bisa kita jadikan motor penggerak tunggal bagi kita untuk mencapai pribadi wirausaha. Hal ini didukung dengan betapa sulitnya pengadaan materi pengayaan yang tepat bagi peserta didik terkait masalah wirausaha. Pendidikan nasional masih menyiratkan sistem feodal yang mengarahkan kita sebagai output pekerja. Inilah pemahaman yang terbangun dalam benak kita sekilan lamanya. Membelenggu dan mencengkeram proses kreatif kita.
Belajar dari anak jalanan
Mari kita memikirkan sejenak akar masalah banyaknya anak jalanan yang menjajalkan makanan maupun jasa kecil-kecilan. Betapa tekun dan teguhnya mereka menawarkan setiap produk atau jasa kepada orang yang mereka temui disudut-sudut jalan. Mereka tangguh, mandiri dan pantang menyerah. Berjibaku dengan kerasnya kehidupan. Mereka pribadi bisnis, mereka kalangan produktif, bukan konsumtif. Mereka membangun mindset mereka sendiri untuk senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Sederhananya, lingkungan yang mengkader mereka menjadi seperti itu. Orang tua, kerabat dan teman-teman di sekitarnya berkolaborasi menghadirkan iklim yang menuntut mereka seperti itu.
Kondisi yang memaksa secara tidak langsung anak-anak jalanan tadi, harusnya kita terapkan di lingkungan keluarga dan sosial kita masing-masing. Keadaan-keadaan yang cenderung sulit akan mengasah kepekaan kita untuk senantiasa bertahan menyelesaikan persoalan.
Mindset wirausaha bukanlah sesuatu yang dapat kita temui di bangku-bangku sekolah. Bukan pula sesuatu yang seketika dapat kita petik dari langit. Namun hal itu adalah sesuatu yang membumi dimana kita harus menemukannya dalam setiap lini kehidupan ini.
Lingkungan sangat menentukan seberapa tangguhnya diri seseorang. Lingkungan yang menuntut kita untuk berfikir dan berusaha secara optimal. Pengadaan lingkungan yang berbasis wirausaha, akan membentuk bukan hanya mindset namun pembentukan pribadi bisnis. Sisa bagaimana kita memolesnya menjadi satu sistem pengkaderan wirausaha yang proporsional. Arah, tujuan dan hasil yang ingin di capai harus disinergikan dengan cita-cita. Sehingga kita tidak kehilangan salah satu orientasi seseorang, baik dari sisi akademis maupun sosialis.
Selain penanaman nilai dan makna wirausaha sejak dini, kita juga harus menggambarkan figur-figur sukses di bidang wirausaha, baik dalam metode secara langsung maupun tidak langsung kepada calon pelaku usaha. Idealnya, kita mengadakan pertemuan maupun seminar tokoh wirausaha secara intens dan berkesinambungan. Tujuannya dengan begitu kita akan mendapatkan gambaran dan motivasi langsung dari sang pengusaha. Lebih lanjut, jika lebih memungkinkan lagi kita harus senantiasa membaca biografi tokoh-tokoh pengusaha dengan beragam latar belakang. Dengan mempelajari hal itu semua, kita akan memotivasi diri kita masing-masing untuk selalu optimis melihat setiap peluang dan tak melulu pesimis jika ada kendala atau hambatan.
Pada akhirnya penanaman nilai dan pengadaan lingkungan berbasis wirausaha sejak dini, harusnya melibatkan semua aspek kehidupan. Baik keluarga, masyarakat sosial dan pemerintah khususnya. Selain itu para pengusaha-pengusaha sukses pun harusnya turut andil dalam membentuk mindset dan karakter wirausaha. Mereka harusnya lebih peka terhadap setiap inisiatif dari pihak manapun yang mempunyai itikad baik untuk memulai setiap usaha. Harus ada motivasi langsung kepada calon pelaku usaha untuk menambah pundi-pundi optimisme mereka dalam membangun dunia usaha meraka sendiri. Dengan adanya kedua hal yang kemudian saya sebut sebagai pengaruh internal dan eksternal dalam membentuk mindset berwirausaha tadi, maka kedepan kita akan mampu membangun usaha kita sendiri.
Mencoba menemukan pengertian dasar dari sebuah kata ‘wirausaha’ ibarat menterjemahkan kata ‘kesejahteraan’ dalam makna yang tepat. Wirausaha layaknya sebuah koridor yang menuntun kita ke satu titik baik dari sisi kehidupan. Meski menapak setiap langkah di koridor itu tak semudah (hanya) mengayunkan kedua kaki kita saja. Kita butuh keyakinan dan keteguhan hati yang besar.
Dunia usaha merupakan sebuah ranah yang rentan akan resiko dan masalah praktis. Kekuatan usaha, manajemen, kepemimpinan, kebutuhan akan ide-ide teknis pengembangan, terakumulasi menjadi semacam kompleksitas persoalan dalam merealisasikannya. Memiliki ide yang brilian sekalipun belum tentu menjadi jaminan bahwa kita bisa menghadirkannya menjadi satu ladang usaha riil. Belum persoalan modal yang entah terlihat begitu mudah namun sulit dalam pengadaannya. Banyaknya progam-program pemerintah yang menawarkan peluang kepada kita selaku calon pelaku usaha dalam hal permodalan, pun belum bisa menarik perhatian dan mendongkrak angka pelaku usaha secara signifikan.
Berwirausaha bukanlah sesuatu yang instan. Pengalaman akan iklim yang sering kita rasakan menjadi poin penting dalam tiap langkah pelaksanaannya. Lembaga-lembaga kewirausahaan, materi, teori dan hal-hal lain di dalamnya tidak akan mampu menciptakan pengusaha yang handal. Sosok pelaku bisnis yang tangguh bukanlah lahir dari sesuatu yang biasa-biasa saja, namun lebih dari luar biasa. Jadi, berhentilah berfikir menggarap suatu sistem percepatan atau studi cepat dalam membentuk karakter wirausaha. Ketangguhan seseorang pelaku wirausaha bukanlah di ukur dari seberapa cepat , tetapi seberapa jauh dia melangkah. Artinya ada proses dalam pengadaannya, ada waktu yang sejatinya kita isi dengan penanaman nilai wirausaha secara intens dan berkelanjutan sejak dini.
Sebenarnya sudah banyak sekali pelatihan, seminar hingga lembaga-lembaga terkait yang mengangkat isu wirausaha sebagai sajian utamanya. Tak ayal pesertanya pun selalu banyak, ini mengindikasikan bahwa semangat membangun negeri ini melalui wirausaha mulai tren di tengah masyarakat. Persoalan sosial yang tak berujung kata solusi, secara tidak langsung memaksa kita untuk senantiasa berbenah diri menuju arah yang lebih baik. Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah bagaimana sikap dan langkah kita mewujudkan semua itu menjadi satu paket kesuksesan. Kuncinya adalah pemahaman dasar kita terhadap simbol kewirausahaan itu sendiri. Bagaimana kemudian kita memaknai wirausaha sebagai satu profesi yang berperan penting dalam membangun negeri ini. Bagaimana membangun mindset wirausaha sebagai sebuah profesi elegan. Selanjutnya menanamkan kesemua pemahamanan itu kepada kader-kader negeri ini sejak dini.
Pengalaman merupakan guru paling berharga dalam setiap aspek kehidupan kita. Pengalaman mengajarkan kita segala hal tentang persoalan yang kelak akan sering kita hadapi. Suasana-suasana yang sarat akan masalah beserta pemecahannya akan membentuk pribadi tangguh di dalam diri kita. Pribadi yang kebal akan kegagalan dan syukur atas pencapaian. Kita harus terbiasa dengan suasana yang sering membuat kita tidak nyaman, suasana yang menuntut kemandirian, suasana yang memaksa kita untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan kita sendiri. Caranya adalah membangun lingkungan itu sendiri dengan melibatkan semua komponen masyarakat. Mulai dari keluarga hingga sosial masyarakat.
Selama belasan tahun, dalam sejarah karir kependidikan yang saya jalani, saya nyaris tidak menemukan sekalipun kesemua hal itu. Artinya bahwa pendidikan formal melalui tujuan nasionalnya, tidak bisa kita jadikan motor penggerak tunggal bagi kita untuk mencapai pribadi wirausaha. Hal ini didukung dengan betapa sulitnya pengadaan materi pengayaan yang tepat bagi peserta didik terkait masalah wirausaha. Pendidikan nasional masih menyiratkan sistem feodal yang mengarahkan kita sebagai output pekerja. Inilah pemahaman yang terbangun dalam benak kita sekilan lamanya. Membelenggu dan mencengkeram proses kreatif kita.
Belajar dari anak jalanan
Mari kita memikirkan sejenak akar masalah banyaknya anak jalanan yang menjajalkan makanan maupun jasa kecil-kecilan. Betapa tekun dan teguhnya mereka menawarkan setiap produk atau jasa kepada orang yang mereka temui disudut-sudut jalan. Mereka tangguh, mandiri dan pantang menyerah. Berjibaku dengan kerasnya kehidupan. Mereka pribadi bisnis, mereka kalangan produktif, bukan konsumtif. Mereka membangun mindset mereka sendiri untuk senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Sederhananya, lingkungan yang mengkader mereka menjadi seperti itu. Orang tua, kerabat dan teman-teman di sekitarnya berkolaborasi menghadirkan iklim yang menuntut mereka seperti itu.
Kondisi yang memaksa secara tidak langsung anak-anak jalanan tadi, harusnya kita terapkan di lingkungan keluarga dan sosial kita masing-masing. Keadaan-keadaan yang cenderung sulit akan mengasah kepekaan kita untuk senantiasa bertahan menyelesaikan persoalan.
Mindset wirausaha bukanlah sesuatu yang dapat kita temui di bangku-bangku sekolah. Bukan pula sesuatu yang seketika dapat kita petik dari langit. Namun hal itu adalah sesuatu yang membumi dimana kita harus menemukannya dalam setiap lini kehidupan ini.
Lingkungan sangat menentukan seberapa tangguhnya diri seseorang. Lingkungan yang menuntut kita untuk berfikir dan berusaha secara optimal. Pengadaan lingkungan yang berbasis wirausaha, akan membentuk bukan hanya mindset namun pembentukan pribadi bisnis. Sisa bagaimana kita memolesnya menjadi satu sistem pengkaderan wirausaha yang proporsional. Arah, tujuan dan hasil yang ingin di capai harus disinergikan dengan cita-cita. Sehingga kita tidak kehilangan salah satu orientasi seseorang, baik dari sisi akademis maupun sosialis.
Selain penanaman nilai dan makna wirausaha sejak dini, kita juga harus menggambarkan figur-figur sukses di bidang wirausaha, baik dalam metode secara langsung maupun tidak langsung kepada calon pelaku usaha. Idealnya, kita mengadakan pertemuan maupun seminar tokoh wirausaha secara intens dan berkesinambungan. Tujuannya dengan begitu kita akan mendapatkan gambaran dan motivasi langsung dari sang pengusaha. Lebih lanjut, jika lebih memungkinkan lagi kita harus senantiasa membaca biografi tokoh-tokoh pengusaha dengan beragam latar belakang. Dengan mempelajari hal itu semua, kita akan memotivasi diri kita masing-masing untuk selalu optimis melihat setiap peluang dan tak melulu pesimis jika ada kendala atau hambatan.
Pada akhirnya penanaman nilai dan pengadaan lingkungan berbasis wirausaha sejak dini, harusnya melibatkan semua aspek kehidupan. Baik keluarga, masyarakat sosial dan pemerintah khususnya. Selain itu para pengusaha-pengusaha sukses pun harusnya turut andil dalam membentuk mindset dan karakter wirausaha. Mereka harusnya lebih peka terhadap setiap inisiatif dari pihak manapun yang mempunyai itikad baik untuk memulai setiap usaha. Harus ada motivasi langsung kepada calon pelaku usaha untuk menambah pundi-pundi optimisme mereka dalam membangun dunia usaha meraka sendiri. Dengan adanya kedua hal yang kemudian saya sebut sebagai pengaruh internal dan eksternal dalam membentuk mindset berwirausaha tadi, maka kedepan kita akan mampu membangun usaha kita sendiri.
wirausaha ading
Tahukah anda, kenapa orang kaya semakin kaya, kelas menengah terus bergumul, dan yang berada di level miskin makin menjadi miskin?
Orang kaya semakin kaya karena begitu penghasilan orang kaya bertambah besar, mreka menunda kesenangan, dan terus menjalani gaya hidup yang sama. Penghasilan yang lebih ini mereka investasikan kedalam aset seperti misalnya membeli saham yang menghasilkan deviden, membangun rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang
disewakan, membuka bisnis sarang walet, dll.
Begitu seterusnya, sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan pada saat penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.
Bagaimana dengan orang menengah?Kenapa mereka bergumul terus secara financial? Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka mereka menggunakan kelebihan uang tersebut untuk mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan lain-lain.
Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.
Lalu bagaimana dengan kaum miskin? Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran. Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang mereka idamkan, beli jam yang lebih keren, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dll.
Berada digolongan manakah anda?
Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan lebih banyak uang bagi anda atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?
Orang kaya semakin kaya karena begitu penghasilan orang kaya bertambah besar, mreka menunda kesenangan, dan terus menjalani gaya hidup yang sama. Penghasilan yang lebih ini mereka investasikan kedalam aset seperti misalnya membeli saham yang menghasilkan deviden, membangun rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang
disewakan, membuka bisnis sarang walet, dll.
Begitu seterusnya, sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan pada saat penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.
Bagaimana dengan orang menengah?Kenapa mereka bergumul terus secara financial? Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka mereka menggunakan kelebihan uang tersebut untuk mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan lain-lain.
Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.
Lalu bagaimana dengan kaum miskin? Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran. Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang mereka idamkan, beli jam yang lebih keren, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dll.
Berada digolongan manakah anda?
Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan lebih banyak uang bagi anda atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?
Saturday, December 3, 2011
WIRAUSAHA MUDA ADING
http://bisnis1001.wordpress.com/category/memahami-bisnis-online/
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11757524&page=3
http://wirausahakita.blogspot.com/
http://wirausaha.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=
http://forumwirausaha.blogspot.com/2010/07/fokus-fokus-dan-fokus.html
Motivasi ini dari teman >sayaMr Dibyo
2 hal yang harus kita bayangkan untuk memacu semangat kesuksesan
1.Bayangkan hal terparah kalau kita tidak sukses ( agak di dramatrisir gak papa)
Misal kita pedagang, bayangin aja kalau sampe dagangan gak laku.
biaya kelahiran anak tidak punya terpaksa anak lahir di rumah tanpa pertolongan medis, besok gak bisa makan,ditagih utang sampai rumah disita. Besok gak bisa makan, dihina para pesaing. Misal kita karyawan yang diserahi sutu tugas,bayangkan jika tugas tidak selesei:kita bakalan dipecat,kita diturunkan jabatan.
Ini akan mendorong kita untuk tidak berhenti dalam berusaha.Kuda akan lebih cepat larinya kalau di cemeti,bayangan itu yang akan mencemeti kita. Maka akan timbuk semangat kita dengan 1 kalimat "SAYA HARUS BERHASIL TIDAK BISA TIDAK" . Para pejuang kemerdekaan kita menggunakan semboyan merderka atau mati, ya mereka memikirkan resiko terburuk jika tidak merdeka, akhirnya mereka memiliki semangat luar biasa ,tidak bisa tidak kita harus merdeka. Oke kita coba bayangkan sekarang, bayangkan saja kita dikejar anjing, kalau kita berhenti kita digigit dan rabies, maka kita nanti akan lari terus. Kita punya usaha kalau kita berhenti kita bayangkan kita tidak bisa makan dan akhirnya jadi glandangan maka kita akan berusaha terus tanpa berhenti.
2.Bayangkan jika kita berhasil ( agak dioverkan gak papa bos)
Kalau kita seorang karyawan bayangkan aja kalau tugas selesei kita akan naik pangkat, gaji juga naik. Kalu kita pedagang kita bisa beli mobil BMW baru kalau kita berhasil, biaya persalinan istri ok,bisa di Rumah sakit mewah dgnan fasilistas vi vi ai vi (VIP), bagi pengusaha yang belum punya istri ,besok bisa segera melamar pacarnya dengan maskimpoi yang megah. Bagi yang sudah punya istri bisa membahagiakan istrinya atau nambah istri baru bagi yang minat he he he he he bercanda. Semua bisa kita raih, dunia bisa kita beli,berlibur ke singapura, bayar utang dan lain-lain. Ini akan menggenjot tubuh kita dengan gairah menuju sukses. Seperti impian para pejuang saat dijajah yaitu merdeka. Dengan merdeka kita tak perlu kerja rodi, kita bisa sekolah,kita hidup aman,itu impian mereka yang berhasil menimbulkan semangat dan akhirnya bisa merdeka betulan.
Nah saudara, mari kita bayangkan. Jangan byangkan pertengahan. Tapi bayangkan 2 titik exteemm. sebuah pelajaran dari Sahabat Nabi, Thoriq bin Ziyad ,saat menaklukan selat Gilbratar. Mereka mendarat dengan kapal ke daerah target penaklukan.Ada 3 opsi bagi mereka:
1.menang dan menguasai selat
2.kalah dan pulang
3.mati terhormat dalam pertempuran tanpa menyerah
Akhirnya Thoriq membakar kapal tersebut sehingga cuma ada 2 pilihan
menang atau mati..........hidup atau mati....tidak ada pilihan kalah menyerah...samapi akhirnya mau gak mau semua harus serius bertarung dan akhirnya mereka menang.
Oke mari kita bayangkan 2 titik Xtreem untuk memacu kita
http://www.selarasconsulting.com/index.php/produk/training/training-motivasi
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11757524&page=3
http://wirausahakita.blogspot.com/
http://wirausaha.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=
http://forumwirausaha.blogspot.com/2010/07/fokus-fokus-dan-fokus.html
Motivasi ini dari teman >sayaMr Dibyo
2 hal yang harus kita bayangkan untuk memacu semangat kesuksesan
1.Bayangkan hal terparah kalau kita tidak sukses ( agak di dramatrisir gak papa)
Misal kita pedagang, bayangin aja kalau sampe dagangan gak laku.
biaya kelahiran anak tidak punya terpaksa anak lahir di rumah tanpa pertolongan medis, besok gak bisa makan,ditagih utang sampai rumah disita. Besok gak bisa makan, dihina para pesaing. Misal kita karyawan yang diserahi sutu tugas,bayangkan jika tugas tidak selesei:kita bakalan dipecat,kita diturunkan jabatan.
Ini akan mendorong kita untuk tidak berhenti dalam berusaha.Kuda akan lebih cepat larinya kalau di cemeti,bayangan itu yang akan mencemeti kita. Maka akan timbuk semangat kita dengan 1 kalimat "SAYA HARUS BERHASIL TIDAK BISA TIDAK" . Para pejuang kemerdekaan kita menggunakan semboyan merderka atau mati, ya mereka memikirkan resiko terburuk jika tidak merdeka, akhirnya mereka memiliki semangat luar biasa ,tidak bisa tidak kita harus merdeka. Oke kita coba bayangkan sekarang, bayangkan saja kita dikejar anjing, kalau kita berhenti kita digigit dan rabies, maka kita nanti akan lari terus. Kita punya usaha kalau kita berhenti kita bayangkan kita tidak bisa makan dan akhirnya jadi glandangan maka kita akan berusaha terus tanpa berhenti.
2.Bayangkan jika kita berhasil ( agak dioverkan gak papa bos)
Kalau kita seorang karyawan bayangkan aja kalau tugas selesei kita akan naik pangkat, gaji juga naik. Kalu kita pedagang kita bisa beli mobil BMW baru kalau kita berhasil, biaya persalinan istri ok,bisa di Rumah sakit mewah dgnan fasilistas vi vi ai vi (VIP), bagi pengusaha yang belum punya istri ,besok bisa segera melamar pacarnya dengan maskimpoi yang megah. Bagi yang sudah punya istri bisa membahagiakan istrinya atau nambah istri baru bagi yang minat he he he he he bercanda. Semua bisa kita raih, dunia bisa kita beli,berlibur ke singapura, bayar utang dan lain-lain. Ini akan menggenjot tubuh kita dengan gairah menuju sukses. Seperti impian para pejuang saat dijajah yaitu merdeka. Dengan merdeka kita tak perlu kerja rodi, kita bisa sekolah,kita hidup aman,itu impian mereka yang berhasil menimbulkan semangat dan akhirnya bisa merdeka betulan.
Nah saudara, mari kita bayangkan. Jangan byangkan pertengahan. Tapi bayangkan 2 titik exteemm. sebuah pelajaran dari Sahabat Nabi, Thoriq bin Ziyad ,saat menaklukan selat Gilbratar. Mereka mendarat dengan kapal ke daerah target penaklukan.Ada 3 opsi bagi mereka:
1.menang dan menguasai selat
2.kalah dan pulang
3.mati terhormat dalam pertempuran tanpa menyerah
Akhirnya Thoriq membakar kapal tersebut sehingga cuma ada 2 pilihan
menang atau mati..........hidup atau mati....tidak ada pilihan kalah menyerah...samapi akhirnya mau gak mau semua harus serius bertarung dan akhirnya mereka menang.
Oke mari kita bayangkan 2 titik Xtreem untuk memacu kita
http://www.selarasconsulting.com/index.php/produk/training/training-motivasi
Thursday, December 1, 2011
SOAL SD KELAS 3 DAN 5
http://polowijoyo.wordpress.com/2009/06/19/soal-ulangan-tengah-semester-kelas-3-dan-5-sd/
Subscribe to:
Posts (Atom)